Pengetahuan medis terus berkembang pesat, namun kadang kala, solusi terbaik datang dari masa lalu. Hal ini berlaku juga untuk pengobatan artritis reumatoid, penyakit autoimun kronis yang menyerang persendian. Selama beberapa dekade, senyawa emas dikenal sebagai pengobatan yang efektif. Seiring dengan kemunculan obat-obatan modern, terapi ini sempat terpinggirkan. Namun, dengan segala kelebihan dan tantangannya, muncul pertanyaan menarik: akankah terapi emas kembali menjadi obat utama untuk artritis reumatoid? Menilik sejarah dan penelitian terbaru, ada kemungkinan emas akan kembali memegang peranan penting dalam penanganan artritis reumatoid.
Pada awal abad ke-20, para dokter mulai menggunakan senyawa emas untuk mengobati penyakit radang. Mekanisme kerjanya adalah dengan memodulasi sistem kekebalan tubuh, menekan peradangan, dan mencegah kerusakan sendi lebih lanjut. Senyawa emas yang paling sering digunakan, seperti auranofin, bekerja dengan cara menargetkan sel-sel imun yang terlalu aktif, sehingga mengurangi respons autoimun yang merusak. Pengobatan ini terbukti efektif bagi banyak pasien, tetapi memiliki kekurangan, yaitu efek samping yang signifikan dan durasi pengobatan yang panjang. Faktor inilah yang membuat terapi ini mulai ditinggalkan seiring dengan penemuan obat-obatan anti-inflamasi non-steroid (OAINS) dan Disease-Modifying Antirheumatic Drugs (DMARDs) yang lebih modern.
Namun, minat terhadap terapi emas kembali bangkit dengan adanya penelitian baru. Sebuah studi yang dipublikasikan pada 21 Maret 2025 di Jurnal Reumatologi Indonesia menunjukkan bahwa nanopartikel emas memiliki potensi besar. Peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan uji coba pada 30 pasien yang tidak merespons obat konvensional. Hasilnya, nanopartikel emas menunjukkan kemampuan untuk menargetkan dan menghambat peradangan secara lebih spesifik, dengan efek samping yang lebih minimal. Kepala penelitian, dr. Ahmad Fauzi, Sp.PD-KR, menjelaskan bahwa nanopartikel emas memiliki keunggulan karena ukurannya yang sangat kecil, memungkinkannya menembus jaringan dan sel target dengan lebih efisien. “Penggunaan nanopartikel emas bisa menjadi terobosan, karena kita bisa menargetkan sumber peradangan tanpa harus memberikan dosis besar yang berpotensi merusak organ lain,” ujar dr. Fauzi.
Pada akhirnya, prospek emas untuk kembali menjadi obat utama artritis reumatoid tidaklah mustahil, namun perlu ditinjau kembali. Alih-alih menggantikan obat modern, emas kemungkinan besar akan menjadi terapi tambahan atau alternatif yang menjanjikan, terutama bagi pasien yang menghadapi resistensi obat atau alergi. Pengembangan nanopartikel emas yang lebih canggih dan terapi kombinasi akan menjadi kunci. Dengan riset yang terus berlanjut, emas tidak lagi sekadar logam mulia dalam perhiasan atau investasi, melainkan juga bagian penting dari masa depan pengobatan, memberikan harapan baru bagi jutaan penderita artritis reumatoid di seluruh dunia.